importantdindie.blogspot.com gudangnya informasi..

Daftar Isi

script>

Bagaimana halaman SMA N 3 Mojokerto?

Arti Persahabatan


Kali ini, aku ingin memposting cerpen karya ku sendiri.

Arti Persahabatan


Di pagi yang cerah, Rayyani bergegas untuk pergi ke sekolah. Ibunya sudah menyiapkan bekal untuk putrinya itu. “Ray, jangan lupa bawa bekal ini ya!” tutur Ibunya. “Ya Bu.”, jawabnya sambil memakai jaket. Tepat pukul 06.15 WIB, Rayyani bergegas untuk berangkat kesekolah diantar ayahnya. Rayyani adalah siswi kelas 9 salah satu SMP favorit di Surabaya, dia dapat bersekolah di sekolah tersebut karena dia mendapatkan beasiswa.

Sesampai di sekolah, Rayyani segera menuju ruang kelas. Pelajaran pertama pun dimulai. Rayyani yang duduk sebangku dengan Ulil, sahabatnya itu, tampak mengikuti pelajaran dengan bersungguh-sungguh. Akhirnya, tiba saatnya waktu yang selalu ditunggu-tunggu oleh para murid, yaitu waktu istirahat. Mereka berdua menuju kantin untuk membeli air minum. “Hari ini panas sekali ya?”, kata Ulil sambil membawa segelas es jeruk. Rayyani mengangguk sambil celingukan mencari tempat untuk mereka duduk. Setelah mendapat tempat duduk, mereka langsung memakan bekal yang dibawah dari rumahnya masing-masing.
Waktu terus berputar… Tepat pukul 12.00 WIB, terdengar suara lonceng yang menandakan kegiatan belajar mengajar telah selesai. “Lil, kita pulang bersama-sama ya…”, ajak Rayyani kepada sahabatnya itu. Ulil hanya mengangguk tersenyum sambil memakai jaket dan menutup resleting tasnya. Mereka berdua segera meninggalkan ruang kelas untuk pulang bersama. Rayyani dan Ulil bersahabat sejak mereka duduk di bangku SD. Karena rumah mereka tak jauh, mereka sering pulang sekolah bersama-sama.
“Assalamualaikum bu…”, Rayyani mengucap salam ketika melangkahkan kakinya ke dalam rumah. “Walaikumsalam…”, jawab Ibu yang saat itu berada di ruang tengah sambil menyulam. Rayyani segera menghampiri Ibunya yang sedang mengenakan baju berwarna merah dan mencium tangannya. Ibu bergegas ke meja makan dan menyiapkan sepiring nasi lengkap dengan sayur asem dan sepotong ayam goreng, menu favorit putrinya itu. Sesudah berganti baju, Rayyani yang saat itu mengenakan baby doll berwarna hijau serta rambut yang terurai panjang, segera menuju ruang makan. “Bu, Ibu sudah makan? Kenapa Ibu tidak beristirahat dikamar saja Bu? Ini kan sudah siang…”, tanya Rayyani dengan penuh perhatian. Ibu pun menghampiri putrinya dengan tersenyum dan berkata “Ibu kan sedang menunggu anak Ibu yang cantik ini..”, Rayyani menjawab dengan senyuman.
Setelah makan siang, Ibu dan Rayyani beristirahat dikamar mereka masing-masing. Tepat pukul 16.00 WIB, Rayyani bergegas bangun lalu menyapu rumah dan sekitarnya. Sedangkan ibunya menyiram bunga yang ada di halaman rumahnya. “Ray, cepat mandi, hari semakin sore!”, perintah Ibu dengan lembut. Ibu segera menuju ruang tamu untuk membereskan Koran dimeja. “Baik bu. Oh ya bu, nanti  malam, Ulil ingin belajar disini. Boleh kan bu?” tanya Rayyani, Ibu menoleh sambil mengangguk dan melontarkan sedikit senyuman untuk putrinya itu. Tak lama kemudian, tedengar suara motor berhenti di halaman rumah. “Assalamualaikum..”, kata Ayah. “Walaikumsalam yah..”. Tampak mata ayah mencari-cari dimana putrinya yang cantik itu. Dan dengan segera Ibu mencium tangan Ayah dan membawakan tas Ayah serta kantung plastik hitam yang dibawah Ayah. Ayah berjalan menuju kamar, setelah melepas sepatu di teras. “Ayah dimana bu?”, tanya Rayyani kepada ibunya yang sedang membereskan sepatu Ayah. “Ayahmu baru saja datang dan sekarang Ayah sedang mandi.”, jawab Ibu.
Tepat pukul 18.00 WIB, Ayah, Ibu dan Rayyani segera melaksanakan sholat maghrib berjamaah. Tak lama kemudian, terdengar pintu yang diketuk. Rayyani dengan segera menuju ruang tamu untuk membukakan pintu. Ulil telah berdiri di luar pintu. Rayyani segera mengajak Ulil untuk masuk. Mereka berdua akan belajar bersama di ruang tamu. Rayyani meninggalkan Ulil untuk mengambil buku dan alat tulis dikamarnya. “Ulil sudah datang?”, tanya Ayah yang sedang menonton TV di ruang tengah bersama Ibu. Rayyani pun menjawab “Ya yah. Ulil sudah datang dan sekarang dia berada di ruang tamu.”. Ibu segera membuatkan 2 gelas es teh, dan sepiring lapis legit untuk mereka. “Wah, jadi merepotkan Bu.”, kata Ulil dengan nada bercanda. Ibu pun menjawab dengan tersenyum “Tidak. Hanya membuatkan segelas minum dan sepiring kue, agar kalian berdua semangat belajar.”. Ulil menatap wajah Ibu yang tampak begitu ramah. Mereka berdua tampak bersungguh-sungguh mengerjakan soal yang diberikan untuk mempersiapkan Ujian.
Ayah dan Ibu membicarakan soal kepindahan ke Semarang karena Ayah Rayyani di mutasi oleh kantor pusat. Ibu tersentak dan diam sejenak, memikirkan bagaimana caranya untuk menjelaskan kepada putri semata wayangnya itu. “Bagaimana ini yah? Pasti Rayyani tidak mau pindah. Ayah tahu kan, Rayyani dan Ulil sudah bersahabat sejak mereka kecil. Mereka juga sering belajar bersama sejak SD.”, tanya Ibu dengan keraguan. “Ayah juga bingung bu, entah apa yang harus ayah lakukan? Ini semua demi pekerjaan ayah. Ayah juga tidak mau berpisah dengan keluarga hanya karena pekerjaan.”, jelas Ayah dengan tegas, sambil melepas kacamata. Akhirnya, Ayah dan Ibu bersepakat untuk membicarakan pelan-pelan dengan Rayyani. Ibu bergegas pergi meninggalkan Ayah untuk membuatkan secangkir kopi dan sepiring kue lapis legit yang dibeli Ayah sewaktu pulang kerja .”Yah, ini kopinya. Diminum ya Yah.”, kata Ibu sambil menyodorkan secangkir kopi. Ayah pun mengangguk, dan segera meminum kopi yang dibuat oleh Ibu barusan.
Tepat pukul 20.00 WIB, Resti berkemas dan segera pamit untuk pulang. Rayyani menutup pintu dan memberaskan buku serta alat tulisnya kedalam kamar. Tak lupa, Rayyani juga membawa 2 gelas dan piring kotor ke dapur. Ibu segera menuju ruang makan, untuk menyiapkan makan malam. “Ray, tolong ajak Ayah mu untuk makan!”, perintah Ibu kepada putrinya itu. “Baik bu.”, Rayyani bergegas ke ruang tengah. “Yah, ayo kita makan bersama-sama.”, ajak putrinya yang manja itu, sambil menggandeng tangan ayahnya. Ayah pun mengikuti langkah putrinya yang menuju ruang makan. Mereka bertiga sangat menikmati sekali makan malam itu. Setelah makan malam, Rayyani membantu Ibunya membereskan piring dan gelas kotor, serta mencucinya. Rayyani memang anak yang rajin dan suka membantu orang tuanya, meskipun ia agak manja.
Malam telah larut, Ibu mendatangi putrinya di kamarnya. “Ray, apa kamu sudah tidur?”, tanya ibu sambil mengetuk pintu kamar Rayyani. “Belum bu.”, Rayyani mempersilahkan Ibu masuk. Dengan perlahan, Ibu membelai rambut Rayyani yang terurai panjang sambil berkata “Ray, Ibu ingin berbicara soal sekolahmu. Sebentar lagi, kamu akan mengikuti Ujian dan lulus SMP. Ayahmu bulan depan akan di mutasi ke Semarang. Dan itu artinya, kita semua akan pindah ke Semarang. Kamu juga bisa memilih SMA yang kamu sukai disana.”. Rayyani begitu terkejut mendengar cerita ibunya. Rayyani menatap ibunya dengan mata yang berkaca-kaca, “Bu, Rayyani tetap tinggal disini ya. Ibu tahu kan, apa alasannya? Ulil, sahabat yang begitu dekat dengan Rayyani, yang selalu memberi semangat Rayyani. Dan di kota Surabaya ini, tempat Rayyani dibesarkan dengan banyak kenangan yang indah dan manis. Rayyani tidak ingin meninggalkan Ulil dan kota Surabaya ini Bu.”. Tak disadari, Ayah telah berada di sebelah Rayyani, “Ray, Ayah tahu, ini semua berat untuk Rayyani. Ayah juga tidak ingin sendirian di Semarang nantinya. Ini semua demi pekerjaan Ayah dan masa depan Rayyani.”, penjelasan Ayah masih sulit untuk dipahami Rayyani. Ibu memeluk putrinya dengan penuh kasih sayang dan mencoba untuk menghiburnya, “Sayang, kamu kan sudah dewasa, sebentar lagi kamu SMA, kamu sayang Ayah dan ibu kan? Coba pahami Ayah. Ibu tahu, Ulil dan kota ini, begitu berarti untukmu. Tapi, semua ini demi masa depanmu Sayang…” kata Ibu yang sedang menenangkan. Rayyani hanya menjawab dengan anggukan kepala sambil meneteskan air mata. Ibu memeluk dan menghapus air mata putrinya dengan penuh kasih sayang. Ibu dan Ayah meninggalkan putrinya dan menyuruhnya untuk istirahat, karena malam semakin larut.
Waktu terus berputar… dan kini saatnya Rayyani untuk meninggalkan Ulil, sahabatnya yang begitu dekat dan kota yang begitu dicintainya. Semua barang sudah masuk kedalam mobil. Namun, Rayyani masih menunggu kedatangan sahabatnya di depan pintu mobil. Tampak dari kejauhan, Ulil yang begitu cantik dengan memakai baju berwarna biru, berjalan menghampiri Rayyani. “Ray, ini kenang-kenangan dariku, agar kamu selalu ingat aku.”, kata Ulil sambil memberikan kotak kecil yang terbungkus kertas kado bergambar Angry Bird. Rayyani tersenyum, dan mengucap terima kasih kepada sahabatnya itu. Didepan Ulil, Rayyani membuka kotak kecil pemberian dari sahabatnya. Ternyata, sebuah jam tangan berwarna kuning, dan ditengah-tengah anggkanya terdapat inisial “RU”, yang artinya Rayyani-Ulil. “Ray, ayo cepat!”, seru ayahnya dari dalam mobil. “Ya Yah, sebentar lagi.” Rayyani pun memeluk Ulil, “Hati-hati dijalan Ray. Jangan lupa kirim kabar.”, kedua gadis itu sama-sama meneteskan air mata. Rayyani melepaskan pelukan mereka, ia pun mengangguk dan melambaikan tangan kepada sahabatnya itu.
Tak terasa, sudah sebulan semenjak kepindahan Rayyani dan keluarganya ke Semarang, Ulil masih tetap berkomunikasi melalui handphone maupun media sosial lainnya. Mereka juga sering berkirim foto. Kamar Rayyani dipenuhi foto-foto kenangan Rayyani dan Ulil ketika mereka bersama. Sesekali, Rayyani memegang jam tangan pemberian Ulil, dan memandang foto sahabatnya itu, dengan penuh kerinduan.
Waktu terus berputar… Rayyani kini telah dewasa, usianya pun sudah 17 tahun. Namun, kerinduannya terhadap Ulil semakin membara. Tepat di hari ulang tahun Ulil, Rayyani pun datang menemui sahabatnya di kota kesayangannya, Surabaya, yang terkenal dengan sebutan kota Pahlawan itu. Mereka saling melepas kerinduan, dan bertkar cerita. “Ray, ternyata kamu masih ingat dengan hari ulang tahunku yah?”, gurau Ulil. ”Ya tentu. Aku ingat semua tentang kamu, termasuk hari ulang tahunmu. Karena kamu tetap menjadi sahabatku, meski kita ada dikota yang berbeda jauh.”, Jawab Rayyani sambil mencubit pipi Ulil. Mereka pun tersenyum manis. “Aku setuju Ray, sampai kapanpun, kita akan tetap bersahabat.”, Rayyani dan Ulil berpelukan dan menangis terharu.
Itulah arti Persahabatan yang sesungguhnya. Persahabatan tak akan terpisah hanya karena jarak. Begitupun persahabatan antara “Rayyani dan Ulil”, yang terjalin bertahun-tahun, walau Rayyani tinggal di Semarang dan Ulil tinggal di Surabaya. Karena arti Sahabat adalah ‘Seseorang yang selalu menemani kita dalam suka maupun duka meski terpisahkan oleh Jarak’.

0 komentar:

Posting Komentar

Letakkan kode script buku tamu disini

Get this widget: