RINDU
Tak sanggup lagi kaki ini
melangkah tatih
lalu terjebak di antara gegurun
dan sehamparan basir pasir
manakala panas menyengat
manakala kering mengerontang
Silaplah mata ini tertuju
di suatu titik
di suatu tempat
berilusi air dan oase
Getas langkahku
adalah ritme kesedihan yang pantas
seperti apel asa yang jatuh tak bertuan
lalu perlahan robok oleh masa
seperti bilur pengharapan dan fatamorgana
Tubuhku hancur
hatiku tercabik
kedahagaan dan cinta
adalah pias deru
sebab serumpun padang nan hijau
dan bunga indah setaman
hanyalah riuk wangi, sesaat
ia lantas hilang menjelma, hampa
dalam diorama nan palsu
Sekelumit padang tandus
nyanyi bisu dan dahaga cinta biru
bagai malam yang merangsa mentari
hingga rembulan tak mampu
menyinari sebait lagu patah
Tak ada yang bisa mengganti
kala purna cinta tersakiti kenangan, jingga
raga dan jiwa adalah mati
seperti batu yang diam
Sebelum aku pergi, kini
biar asaku membasuhmu
untuk yang terakhir kalinya
Biarkan aku memelukmu
untuk yang terakhir kalinya
agar dapat kuteteskan mutiara tangis
dalam rindu nan durjana . . .